Penurunan
Kualitas Taman di Kota Semarang
Kota merupakan perwujudan aktivitas manusia
yang berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, pemerintahan, politik,
dan pendidikan, serta penyedia fasilitas pelayanan bagi masyarakat. Dalam
perjalanannya, kota mengalami perkembangan yang sangat pesat akibat adanya
dinamika penduduk, perubahan sosial ekonomi, dan terjadinya interaksi dengan
wilayah lain.(Dwihatmojo,
2002). Kualitas hidup suatu kota, pada dasarnya dapat ditentukan
berdasarkan ketersediaan fasilitas umum yang mudah dijangkau oleh semua lapisan
masyarakat. Salah satu fasilitas umum yang dapat digunakan sebagai indikator
dalam mengertahui kualitas lingkungan suatu kota adalah ketersediaan akan ruang
terbuka publik dimana bagian dari ruang terbuka publik itu sendiri adalah ruang
terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. (Rezkiandini,
2013).
Taman kota merupakan salah satu bagian dari ruang
terbuka hijau (Dwihatmojo), lahan yang
sering dijadikan alternatif pilihan untuk mengatasi kebutuhan lahan. Sebagai
bagian dari Ruang Terbuka Publik, taman kota memiliki manfaat bagi kelangsungan
kota itu sendiri, berubahnya fungsi-fungsi taman kota secara tidak terkendali
merupakan ancaman bahaya lingkungan. Hilangnya fungsi paru-paru kota, terjadinya
degradasi lingkungan dan fungsi sosial hal ini diduga berdampak pada masyarakat
sekitar baik secara fisik, ekonomi maupun sosial (Dwi
Purnomo, 2002). Penurunan kualitas taman di kota semarang
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu meningkatnya jumlah penduduk yang cukup
signifikan, kurangnya perhatian dari pemerintah Kota Semarang, minimnya
kesadaran pihak swata dan masyarakat sekitar, serta tidak optimalnya fungsi
estetika kota. Keterbatasan lahan dan ketidakkonsisten dalam menerapkan
tata ruang mengakibatkan berkurangnya RTH yang disebabkan oleh konversi lahan
yaitu beralih fungsinya RTH untuk peruntukan ruang yang lain.
Kecenderungan
terjadinya penurunan kualitas ruang terbuka publik terutama taman pada 30 tahun
terakhir sangat signifikan terutama pada Kota Semarang. Dalam upaya mewujudkan
taman kota yang nyaman dan berkelanjutan untuk tempat bersosialisasi serta
berkumpul, maka sudah saatnya pemerintah untuk tegas mengambil keputusan
tentang konversi lahan, serta peran masyarakat dalam menjaga taman tersebut
agar tetap pada fungsinya sebagai paru-paru kota.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwi
Purnomo, S. (2002). Kajian Perubahan
Fungsi Taman Kota di Kota Semarang Universitas Diponegoro. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar